Cyber Pedagogy untuk Pembelajaran Abad 21

Gambar. Cyber Pedagogy


Istilah Cyber Pedagogy secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu mendidik anak melalui dunia maya. Makna tersebut dapat dijelaskan lagi yakni sebagai usaha dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan sarana dunia maya (virtual/digital). Kita tentu mengetahui bersama, bahwa dari dahulu hingga saat ini pembelajaran dilaksanakan di kelas-kelas fisik, akan tetapi dengan hadirnya perkembangan teknologi komunikasi maka sangat memungkinkan bagi kita untuk dapat melaksanakan pembelajaran secara virtual. Selain itu, dengan perkembangan teknologi komunikasi tersebut maka semakin beragam pula sumber belajar yang dapat diakses dengan mudah dan murah. Hal tersebutlah yang dijadikan sebagai landasan mengapa cyber pedagogy sangat memiliki tempat untuk dilakukan.

Cyber pedagogy selayaknya disandingkan dengan pendekatan atau paradigma student centered learning atau pembelajaran yang berpusat ke siswa/peserta didik. Sumber belajar yang beragam dan dapat secara mudah diakses darimanapun dan kapanpun, dapat dimanfaatkan oleh para pendidik untuk menerapkan pembelajaran kelas terbalik (flipped classroom) yakni peserta didik diminta untuk mempelajari materi terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas. Pembelajaran dengan model tersebut sangat memberikan peluang bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi seluruh materi sebelum masuk ke kelas. Peserta didik akan mendapatkan pengetahuan secara mandiri melalui proses belajar mandirinya sebelum masuk kelas. Pembelajaran tersebut sangat tepat dengan pendekatan psikologi belajar konstruktivisme, yang memberi penekanan terhadap peserta didik agar dapat membangun pengetahuannya secara mandiri.

Cyber pedagogy tersebut tentu dapat diwujudkan jika para pendidik dan peserta didik memiliki kemampuan dasar dalam mengoperasikan perangkat TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Terlebih lagi, pada konteks ini para pendidik perlu memiliki kompetensi TIK agar mampu menyelenggarakan pembelajaran dengan konsep cyber pedagogy tersebut. Pada poin ini, dapat disimpulkan bahwa konsep cyber pedagogy tersebut dapat diidentikkan dengan pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK.

Apa itu Pedagogy atau Pedagogi ?

Pedagogi dapat diartikan sebagai sebuh ilmu pendidikan tentang bagaimana membimbing atau mendidik anak. Pedagogi membahas tentang ilmu pendidikan yang difokuskan untuk  pembelajaran usia anak-anak hingga remaja. Pedagogi berasal dari kata paedos yang berarti anak laki-laki dan agogos yang berarti mengantar, membimbing anak mencapai tujuan hidup tertentu. Secara khusus dapat dikatakan bahwa pedagogi ialah sebuah seni dalam ilmu pendidikan tentang bagaimana cara seorang pendidik dapat membimbing dan mengantarkan anak ke tujuan hidup mereka, serta agar mereka dapat mencapai kemandirian dalam kehidupannya.

Definisi pendidikan sendiri dikemukan oleh banyak ahli. Berdasarkan definisi-definisi oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan ialah sebuah usaha yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membimbing, menuntun, dan memberikan bantuan kepada orang-orang yang belum dewasa (anak-anak) untuk dapat mencapai tingkat kedewasaannya, serta dapat menggapai tujuannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Pada konteks definisi tersebut, diketahui bahwa setiap anak-anak memiliki kekhasannya masing-masing. 

Arti pedagogi secara luas ialah ilmu pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan sepanjang hayatnya. Oleh sebab itu, pendidikan menurut konteks pedagogi tersebut memiliki prinsip pendidikan sepanjang hayat/seumur hidup, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat, dan pendidikan merupakan sebuah kewajiban bagi manusia agar memiliki keahlian dan kepribadian yang baik.

Pada definisi pedagogi tersebut secara jelas telah dikemukakan bahwa pedagogi memfokuskan terhadap penyelenggaraan pendidikan untuk usia anak-anak hingga remaja. Jika pedagogi khusus untuk usia anak-anak s.d. remaja, maka bagaimana penyelenggaraan pendidikan untuk usia dewasa seperti halnya penyelenggaran pada tingkat perguruan tinggi. Pendidikan bagi orang dewasa disebut dengan Andragogi. Pada dasarnya seseorang yang telah masuk usia dewasa memiliki tujuan yang berbeda dengan anak-anak hingga remaja. 

Seseorang yang telah dewasa pada umumnya sudah memiliki kemampuan atau pengetahuan awal yang baik, sehingga mereka belajar karena menginginkan untuk memiliki kemampuan atau keahlian tertentu. Mereka belajar untuk tujuan tertentu atau bahkan untuk menunjang karirnya dalam pekerjaan tertentu. Andragogi tersebut dikemukakan oleh Malcom Shepherd Knowles yang merupakan seorang ahli pendidikan asal Amerika Serikat. Menurut Knowles, Andragogi adalah seni dan sains mengenai pembelajaran orang dewasa (Baca: Desain Pembelajaran Di E-Learning : Teori Andragogi (Bagian 3)).

Pedagogi Abad 21

Ilmu pendidikan diyakini berkembangan seiring perkembangan peradaban manusia. Perkembangan peradaban manusia seperti yang terjadi saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Para pendidik sangat diharapkan untuk memiliki ICT Literacy atau dapat diartikan sebagai kemampuan atau penguasaan dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Hal tersebut sangat beralasan sebab tidak mungkin rasanya pada abad 21 dengan kemajuan teknologi seperti ini, pendidik menerapkan pembelajaran seperti halnya abad 20 ke bawah. Sebagai sebuah informasi, rentang setiap abad dapat dilihat sebagai berikut :
  • Abad ke‑19 : 1 Januari 1801 – 31 Desember 1900
  • Abad ke-20 : 1 Januari 1901 – 31 Desember 2000
  • Abad ke-21 : 1 Januari 2001 – 31 Desember 2100
Dalam rangka menjawab tantangan akan perkembangan teknologi pada abad 21 maka diperlukan sebuah kerangka kerja atau framework yang dapat dijadikan acuan bagi para pendidik untuk dapat mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Kerangka kerja yang sesuai untuk kebutuhan pembelajaran abad 21 tersebut ialah Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).

Gambar. Kerangka kerja dari TPACK


Berdasarkan ilustrasi tersebut, kita coba pahami bagaimana konsep Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) yang terdiri atas 3 (tiga) pengetahuan dasar, yaitu :
  • Technological Knowledge (TK) merupakan pengetahuan mengenai jenis-jenis teknologi sebagai alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran. 
  • Pedagogical Knowlede (PK) merupakan pengetahuan dalam hal pedagogi/mendidik yang berkaitan dengan perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran.
  • Content Knowledge (CK) merupakan pengetahuan mengenai materi pembelajaran yang harus dikuasai guru agar dapat membelajarkan kembali kepada peserta didik.
Ketiga pengetahuan dasar dalam konsep TPACK tersebut membuat perpaduan baru yang meliputi konsep-konsep berikut :
  • Pedagogical Content Knowledge (PCK) merupakan pengetahuan mengenai pedagogi/mendidik yang berkaitan dengan materi tertentu.
  • Technological Content Knowledege (TCK) merupakan pengetahuan mengenai hubungan timbal balik antara teknologi dengan konten.
  • Technological Pedagogical Knowledge (TPK) merupakan pengetahuan mengenai pemanfaatan perangkat-perangkat teknologi yang dapat digunakan untuk memfasilitasi atau memudahkan belajar serta pembelajaran.
  • Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi yang tepat dalam proses pembelajaran serta pemanfaatan materi-materi pembelajaran yang dapat dijangkau melalui teknologi sebagai salah satu sumber belajar.
Pendidik diharapkan untuk mampu memiliki 3 (tiga) pengetahuan dasar yang meliputi pengetahuan teknologi, pengetahuan pedagogi, dan pengetahuan materi sesuai bidang studi. Pengetahuan dasar tersebut dapat dikombinasikan untuk mendapatkan sebuah kerangka kerja baru yang disebut dengan pengetahuan materi pedagogis teknologis. Kerangka kerja baru tersebut sebenarnya memiliki prinsip utama yaitu pendidik perlu memiliki pengetahuan atau kecapakan dalam menyajikan sebuah pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi serta disesuaikan dengan materi yang akan diberikan kepada peserta didik. Pendidik juga dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang saat ini dapat diperoleh secara lebih mudah melalui hadirnya teknologi. Pembelajaran dengan tipe seperti demikianlah yang dibutuhkan untuk pembelajaran Abad 21. Pada akhirnya, dapat kita pahami bersama  bahwa konsep dalam TPACK tersebut sesuai dengan konsep Cyber Pedagogy yang sudah disampaikan sebelumnya.

Tipe -Gogy sebagai Tahapan Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pada umumnya memiliki arah atau orientasi pada proses penyampaian (deliver) subjek materi melalui teks dan gambar serta dengan menggunakan metode atau model tertentu. Sedangkan pada abad 21 ini, proses pembelajaran perlu ditransformasikan ke pelaksanaan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pembelajaran berbasis teknologi memiliki orientasi pada proses pembelajaran melalui pendekatan sumber daya dan masalah, serta penyajian materi pembelajaran sebagai sumber belajar dapat memanfaatkan media-media berbasis teknologi, seperti website.

Prinsip pembelajaran pada abad 21 ini ialah memberikan kemerdekaan atau kebebasan kepada peserta didik terhadap apa yang ingin mereka pelajari serta bagaimana cara belajar yang ingin mereka lakukan. Pada tingkatan tersebut, peserta didik dapat belajar secara otonom atau mandiri sesuai dengan perkembangan minat dan kemampuan belajarnya. Jika seorang pendidik mampu membawa para peserta didiknya pada tingkatan tersebut, maka proses pembelajarannya sudah masuk pada tahap heutagogy

Pendidik dapat menyediakan materi pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar melalui berbagai media berbasis teknologi yang tersedia, misalnya melalui website, platform video online, dan sebagainya. Sumber belajar tersebut dapat diakses oleh peserta didik untuk mereka pelajari, baik ketika proses pembelajaran ketika di kelas berlangsung atau sebelum proses pembelajaran di kelas dilaksanakan (bagi yang menggunakan model flipped classroom).

Pendidik perlu memahami tipe -gogy sebagai tahapan proses pembelajaran sebagai upaya untuk dapat mengukur tingkatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung saat ini, serta nantinya dapat menciptakan tingkatan proses pembelajaran yang lebih baik pada masa selanjutnya. Tipe -gogy  sebagai tahapan proses pembelajaran ialah sebagai berikut :
  1. Pedagogy merupakan proses yang menitikberakan pada proses pendidik berusaha memahami materi pembelajaran serta dapat menentukkan metode yang tepat dalam menyampaikannya kepada peserta didik agar memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
  2. Mesagogy merupakan tahapan pengembangan antara pedagogy dan andragogy. Mesagogy merupakan proses yang mempengaruhi peserta didik dalam proses pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pada proses tersebut, pendidik perlu memberikan sumber belajar yang tepat serta diharapkan untuk memantau perkembangan peserta didik secara aktif. Tahap mesagogy ini peserta didik didorong untuk dapat memiliki kemandirian dalam belajar atau memilih sumber belajarnya.
  3. Andragogy merupakan tahap ketika peserta didik dalam proses belajarnya sangat dipengaruhi oleh berbagai aktivitas kehidupannya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pada tahap ini peserta didik ingin belajar dikarenakan memang mengiginkan untuk mempelajarinya dikarenakan suatu tuntutan tertentu dalam kehidupannya. Pendidik memiliki peran sebagai seorang fasilitator bagi peserta didiknya. Oleh sebab itu, peran pendidik lebih sebagai seorang pendamping dalam proses pembelajarannya, sehingga segala informasi dari sumber belajar yang diperoleh peserta didik dapat diklarifikasi kebenarannya (valid) dan sesuai dengan kebutuhannya.
  4. Heutagogy merupakan tahap proses pembelajaran yang telah masuk dalam kategori berpikir dengan tingkatkan yang sangat tinggi. Pada tahap ini peserta didik mencapai tingkat kreativitas dan inovasi dalam belajarnya pada level yang tinggi dan maju. Pendidik bertanggung jawab untuk mendorong peserta didik agar dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh sesuai dengan fungsi atau peruntukannya. Pendidik pada tahap ini sebagai mitra pembelajaran dalam kaitannya untuk menyediakan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan oleh peserta didik.

Konsep 4C dalam Pembelajaran Abad 21

Pembelajaran pada abad 21 memiliki 4 (empat) konsep keterampilan utama yaitu Berpikir kritis (Critical Thinking), Komunikasi (Communication), Kolaborasi (Collaboration), dan Kreativitas (Creativity). Tantangan sekaligus kebutuhan pada abad 21 ini memerlukan ke-empat keterampilan tersebut agar mampu menyelesaikan segara permasalahan yang terjadi, serta untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, efektif, dan efisien. Pada abad 21, berbagai bidang pekerjaan sangat memerlukan kemampuan untuk dapat berpikir kritis dan berkerjasama dengan orang-orang dari berbagai negara, sehingga diperlukan kemampuan komunikasi menggunakan bermacam-macam bahasa atau minimal dapat menggunakan bahasa internasional. Oleh sebab itulah, para peserta didik harus diupayakan untuk dapat mencapai ke-empat keterampilan tersebut agar mereka dapat berkompetisi serta memiliki kemampuan memecahkan masalah yang baik ketika memasuki dunia kerja.

Konsep keterampilan 4C tersebut perlu diintegrasikan ke dalam setiap aktivitas pembelajaran di kelas atau sekolah. Konsep 4C tersebut perlu dijabarkan secara lengkap agar para pendidik memahami tentang bagaimana menerapkannya dalam pembelajaran. 

  • Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah)
Berpikir kritis merupakan sebuah proses berpikir yang dilakukan secara rasional dan analitis terhadap sebuah permasalahan, sehingga menghasilkan pemecahan masalah atau solusi yang tepat. Berpikir kritis pada dasarnya merupakan sebuah kegiatan menganalisis, menginterpretasi, menalar, dan memecahkan masalah. Kemampuan dalam memecahkan masalah di dalam kehidupan masyarakat menjadi sebuah kemampuan yang penting dan bernilai tinggi.

Berpikir kritis dapat dilakukan dengan berbagai penalaran atau logika, baik secara induktif maupun deduktif. Kemampuan berpikir kritis dalam sebuah pembelajaran dapat dibangun melalui beberapa penerapan model pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat digunakan harus memiliki urutan kegiatan pembelajaran yang berpusat ke peserta didik (student centered), seperti Problem Based Learning, Discovery Learning, dst. Pada pembelajaran abad 21 ini proses pembelajaran perlu diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran, sehingga diharapkan pemecahan masalah yang dihasilkan menjadi lebih lengkap dikarenakan ada tinjauan dari beberapa sudut pandang bidang keilmuan.

  • Communication (Komunikasi)
Komunikasi ialah suatu proses pertukaran ide, pesan dan kontak, serta interaksi sosial termasuk aktivitas pokok dalam kehidupan manusia. Komunikasi yang merupakan bagian dari interaksi sosial memiliki tempat tersendiri di mata manusia sebagai makhluk sosial, sebab orang yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi pada umumnya akan menjadi orang yang diunggulkan di kalangan masyarakat di lingkungannya. Seseorang yang berkemampuan komunikasi akan lebih mudah dalam menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain, sehingga diharapkan turut mempengaruhi orang lain untuk meyakini kebenaran atas apa yang disampaikan kepadanya. 

Pada pembelajaran abad 21, kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi tidak hanya ditekankan pada kelancaran membaca, pengucapan yang benar, dan penulisan yang jelas, tetapi peserta didik harus memiliki kemampuan menganalisis dan memproses gagasan untuk disampaikan secara tepat. Komunikasi di era digital atau teknologi modern juga menekankan pada kemampuan peserta didik untuk dapat memanfaatkannya secara tepat sebagai perantara komunikasi. Pada poin ini dapat disimpulkan, bahwa kemampuan komunikasi adalah keterampilan yang dimiliki seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan jelas serta menyampaikan pemikiran dan gagasan secara efektif baik melalui lisan, tertulis, dan non-verbal. Ciri komunikasi yang efektif ialah pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami. 

Kemampuan berkomunikasi sangat erat kaitannya dengan kemampuan berkolaborasi atau bekerja sama dengan orang lain. Dengan demikian, kemampuan berkomunikasi menjadi prasyarat dari kemampuan berkolaborasi. Kemampuan berkomunikasi peserta didik dalam pembelajaran dapat dibangun melalui berbagai kegiatan yang memusatkan aktivitas kepada peserta didik (student centered). Peserta didik dapat dibiasakan untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui kegiatan diskusi, presentasi, dan memecahkan masalah. 

  • Collaboration (Kolaborasi)
Kolaborsi secara mudah dapat diartikan sebagai kerja sama. Kolaborasi menjadi sebuah kemampuan yang cukup penting, karena hal tersebut berkaitan dengan bagaimana sebuah pekerjaan dapat diselesaikan. Kemampuan berkolaborasi sangat penting untuk saat ini, terutama dalam sebuah bidang pekerjaan tertentu. Pada era ini, terkadang suatu permasalahan yang terjadi tidak cukup jika hanya dipecahkan melalui satu bidang pekerjaan saja, akan tetapi juga memerlukan bidang pekerjaan lain demi keberhasilan tertentu. Sebuah keberhasilan pada suatu bidang tertentu juga tidak cukup jika tidak diselesaikan secara efektif dan efisien.

Abad 21 ini memaksa kita untuk dapat mengerjakan sesuatu hal secara efektif dan efisien sekaligus, maknanya suatu pekerjaan tidak hanya sekedar selesai tetapi juga efektif dan efisien. Oleh karena itu, sebuah bidang pekerjaan membutuhkan kerjasama atau kolaborasi yang baik dari setiap elemen, baik dengan orang-orang dalam satu bidang yang sama atau dengan bidang yang lain. Bahkan, di era keterbukaan informasi seperti saat ini, sangat dimungkinkan untuk berkolaborasi dengan masyarakat lain lintas negara dan bahasa. Pada konteks ini, kemampuan atau keterampilan komunikasi sangat diperlukan khususnya kemampuan bahasa asing/internasional.

Pada pembelajaran abad 21 ini, kemampuan kolaborasi dapat dibangun melalui kegiatan yang berpusat pada kelompok, seperti menggunakan model Cooperative Learning, dst. Kolaborasi dalam pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan untuk bekerja secara efektif dan sekaligus memiliki sikap menghormati anggota kelompok dengan latar belakang yang beragam demi mencapai tujuan bersama. Peserta didik perlu didorong untuk memiliki tanggung jawab terhadap kolompoknya, atas segala tugas atau peran yang sudah ditentukan bersama. Wujud kolaborasi dalam pembelajaran abad 21 juga dapat berupa integrasi antar mata pelajaran guna membahas suatu topik tertentu ditinjau dari beberapa bidang keilmuan.

  • Creativity and Innovation (Kreativitas dan Inovasi)
Kreativitas dan inovasi dalam dunia yang penuh dengan kompetisi seperti saat ini memiliki posisi yang cukup berharga. Kreativitas dan inovasi menjadi senjata ampuh untuk dapat memenangkan sebuah kompetisi, terlebih dalam sebuah industri. Kreativitas dan inovasi saat ini menjadi kunci khususnya di bidang industri untuk membuatnya tetap besar dan bertahan di tengah peta persaingan yang besar. Peserta didik pada abad 21 ini perlu memiliki kemampuan untuk berkreativitas dan berinovasi pada bidang yang diminatinya. Hal tersebut bertujuan agar pada waktunya nanti, para peserta didik dapat menghadapi tantangan dan persaingan global.

Kreativitas dan inovasi ialah sebuah proses untuk mendapatkan atau menciptakan ide baru dari hasil menganalisis dan mengevaluasi dari sesuatu hal yang sudah ada sebelumnya. Harapannya ide baru yang dilahirkan tersebut dapat meningkatkan performa secara signifikan. Kemampuan berkreasi dan berinovasi pada pembelajaran abad 21 dapat dibangun melalui kegiatan yang bermuara pada pembuatan sebuah proyek (project). Pada proses pembuatan proyek atau produk tersebut diharapkan banyak ide-ide yang dapat dikembangkan oleh peserta didik, sehingga menghasilkan sesuatu yang menarik dan berguna sesuai dengan bidang ilmu yang sedang dikaji. Pembelajaran berbasis proyek tersebut dikenal juga dengan Project Based Learning.

Proses kreatif dan inovasi sebenarnya tidak selalu harus dilakukan sendiri, tapi juga dapat diperoleh melalui kolaborasi serta melalui proses komunikasi yang baik. Kreativitas dan inovasi tersebut juga tidak dapat lahir tiba-tiba, perlu sebuah proses berpikir secara kritis dan berorientasi kepada pemecahan sebuah masalah. Oleh sebab itulah, keempat konsep keterampilan tersebut yang meliputi Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Pembelajaran abad 21 memiliki ciri khas yakni adanya integrasi teknologi dengan keempat keterampilan tersebut dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. 




Referensi :
Nurhabibah & Richardus Eko Indrajit. (2021). Cyber Pedagogy : Pendampingan Guru yang Tepat di Era Digital. Yogyakarta: Penerbit Andi
Yoga Prismanata

Saya adalah seorang penggiat di dunia pendidikan. Konsentrasi saya sekarang ialah dalam hal teknologi pendidikan dan pendidikan geografi. Saya sangat suka dalam menciptakan karya, baik berupa tulisan maupun media pembelajaran.

2 Komentar

Kami ucapkan terima kasih telah mengunjungi dan membaca tulisan di website kami. Silahkan sampaikan kritik, saran, dan diskusi melalui kolom komentar.

Lebih baru Lebih lama