Desain Pesan dalam Pembelajaran: Definisi dan Prinsip

Gambar. Desain Pesan dalam Pembelajaran


Jika dipikir secara mendalam, maka sebenarnya kegiatan pembelajaran itu selalu berpusat pada proses interaksi antara guru/sumber belajar dengan peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan definisi pembelajaran menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Interaksi antara guru/sumber belajar dengan peserta didik perlu dilaksanakan secara konstruktif agar pembelajaran bermakna. Proses pertukaran ide, gagasan, atau informasi tersebut merupakan komponen inti dalam keseluruhan kegiatan belajar. Sebagian besar pendidik tentu sepakat terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa mengajar itu esensinya adalah obrolan antara guru dengan peserta didiknya. Guru dan peserta didik bertukar informasi atau pesan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu. 

Proses interaksi tersebut tentu memerlukan komunikasi agar terjadinya pertukaran ide, gagasan, atau informasi. Jika mengacu pada komponen komunikasi, maka kita dapat mengidentifikasi bagaimana sebuah komunikasi dapat terjadi. Komunikasi dapat terjadi jika terdapat 3 (tiga) komponen utama, yaitu sumber (komunikator), pesan/informasi, dan penerima (komunikan). Jika salah satu komponen tidak tersedia, maka komunikasi tidak dapat terjadi. Guru dan peserta didik dalam aspek komunikasi dapat berperan sebagai komunikator atau komunikan bergantung dengan desain pembelajarannya. Komponen yang sangat krusial agar proses interaksi tersebut adalah pesan/informasi. Jika pesan/informasi tersebut tidak dapat secara jelas atau mudah diterima oleh komunikator, maka proses komunikasi atau interaksi dalam pembelajaran akan terkendala atau kurang optimal. Kurang optimalnya proses komunikasi tentu akan berdampak terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran. Optimalisasi proses komunikasi tersebut dapat diupayakan dengan merekayasa pesan/informasi melalui proses desain pesan yang tepat.

Definisi Desain Pesan

Desain pesan merupakan sebuah perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan. Desain pesan menjadi bagian dari proses untuk dapat mewujudkan sebuah pesan dalam bentuk fisiknya, sehingga pesan tersebut dapat dengan mudah dipahami oleh penerima pesan. Prinsip yang harus diperhatikan dalam proses mendesain sebuah pesan adalah prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya tangkap penerima pesan. Pesan perlu dibatasi pada pola-pola, isyarat, atau simbol yang dapat memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor para penerima pesan. Desain pesan pada hakikatnya adalah bagaimana seorang komunikator dapat menyampaikan pesan sesuai dengan konsep belajar dan pembelajaran secara efektif kepada penerima pesan. Sebuah pesan perlu dirancang atau didesain sebagai upaya agar esensi dari pesan tersebut secara optimal mampu diterima atau dipahami oleh penerimanya. Oleh sebab itu, pesan-pesan yang ingin dikirimkan perlu dibatasi serta dirumuskan sesuai dengan prinsip perhatian, persepsi, dan daya tangkap si penerima pesan. Hal tersebut berarti pesan yang dikirimkan tersebut memiliki frekuensi yang sama antara pengirim dan penerimanya. 

Latar belakang betapa pentingnya sebuah pesan untuk didesain atau dirancang adalah perbedaan karakteristik penerimanya, sehingga perlu rasanya untuk dapat mefasilitasi seluruh perbedaan tersebut secara optimal. Aktivitas desain merupakan hal paling awal dalam upaya pemecahan suatu isu atau permasalahan. Jika perbedaan karakteristik penerima tersebut merupakan sebuah permasalahan dalam proses komunikasi, maka untuk menemukan solusinya dimulai dari tahap desain terlebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa desain pesan merupakan proses yang bersifat linear. Hal tersebut berarti mendesain pesan perlu diawali dari identifikasi permasalahan, penentuan kebutuhan, perumusan pesan, diujicobakan, dan terakhir dilakukan evaluasi. Tujuan utama dari desain pesan dapat dicapai dengan memperhatikan beberapa prinsip-prinsip desain pesan.

Prinsip Desain Pesan

Faktor internal peserta didik yang menggerakkan dirinya untuk belajar meliputi perhatian, persepsi dan pemahaman. Perhatian peserta didik merupakan pemantik yang menentukan seberapa banyak pesan/informasi pembelajaran dapat diterima. Semakin banyak perhatian yang dicurahkan oleh peserta didik untuk kegiatan belajarnya, maka semakin banyak pesan/informasi yang diperoleh. Pada beberapa kondisi, perhatian ini dapat terbentuk setelah guru memberikan beberapa stimulus yang memicu perhatian dan fokus peserta didik terhadap pembelajaran. Persepsi memainkan peranan penting tentang bagaimana peserta didik memandang, memaknai, dan menginterpretasikan sebuah pembelajaran. Penting bagi guru untuk dapat membangun pembelajaran yang bermakna dan konkrit agar menumbuhkan persepsi positif peserta didik. Peserta didik yang merasa pembelajaran yang dilakukannya itu tidak penting, maka dia juga tidak akan tergerak untuk melakukan kegiatan belajar. Sedangkan, pemahaman merupakan hasil akhir dari sebuah pembelajaran yaitu peserta didik menyerap informasi atau materi pembelajaran secara mendalam. Pemahaman yang baik terhadap suatu informasi atau materi akan memicu proses belajar secara berkelanjutan.

Desain pesan berkaitan dengan kegiatan merancang bentuk fisik dari pesan yang meliputi rancangan naskah (teks), tampilan layar, dan video. Pesan/informasi yang akan disampaikan sebaiknya dirancang secara optimal agar mudah diterima oleh peserta didik. Proses penyampaian pesan/informasi dapat dilakukan secara efektif jika memperhatikan beberapa prinsp desain pesan sebagai berikut.

1. Prinsip Kesiapan dan Motivasi (Readiness and Motivation)
Prinsip kesiapan dan motivasi menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki kesiapan dan motivasi yang tinggi akan memiliki hasil belajar yang lebih baik. Kesiapan dalam prinsip ini berhubungan dengan pengetahuan prasyarat (minimal), kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Guru dapat menggali tingkat kesiapan peserta didik dengan cara melakukan tes prasyarat, tes diagnostik, atau tes awal. Guru dapat melakukan tindakan jika berdasarkan tes tersebut terdapat pengetahuan prasyarat yang belum terpenuhi. Peserta didik dapat diberikan pembekalan (matrikulasi) atau sumber belajar mandiri agar mereka mencapai pengetahuan atau kompetensi minimal sebelum mengikuti pembelajaran sebenarnya. Motivasi merupakan dorongan yang muncul untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi belajar berarti dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan belajar. Dorongan tersebut dapat berasal dari dalam diri peserta didik (internal), maupun dari luar diri peserta didik (eksternal). Peserta didik dapat didorong motivasinya melalui proses visualisasi terhadap manfaat atau relevansinya untuk kegiatan belajar yang sedang dijalani sekarang, di masa mendatang, dan untuk dapat bekerja di masyarakat. Motivasi juga dapat didorong secara sederhana/praktis melalui pemberian apresiasi (hadiah) dan konsekuensi (hukuman), atau lebih dikenal dengan reward and punishment sebagaimana konsep teori belajar behaviorisme dan kognitivisme.

2. Penggunaan Alat Pemusat Perhatian (Attention Directing Devices)
Prinsip ini menyatakan bahwa peserta didik dapat meningkat hasil belajarnya ketika digunakan alat pemusat perhatian ketika pembelajaran. Perhatian memegang peranan penting terhadap keberhasilan belajar. Perhatian yang tinggi terhadap aktivitas pembelajaran dapat meningkatkan tingkat penyerapan pesan atau materi. Perhatian merupakan terpusatnya aktivitas mental manusia terhadap suatu objek tertentu. Berdasarkan konsep tersebut, bagi peserta didik yang memiliki durasi perhatian atau fokusnya tinggi dapat mencapai keberhasilan belajar, sedangkan bagi yang durasi perhatiannya rendah maka dia akan gagal. Alat pemusat perhatian tersebut dapat diterapkan ketika peserta didik dirasa sudah tidak memiliki perhatian pada kegiatan belajarnya. Terlebih pada peserta didik generasi digital native yang cenderung sulit memiliki durasi fokus yang panjang. Pentingnya alat pemusat perhatian tersebut juga diiringi satu fakta bahwa mempertahankan perhatian/fokus peserta didik juga bukan pekerjaan yang mudah. Oleh sebab itu, alat pemusat perhatian yang tepat perlu digunakan di dalam kelas. Guru atau pendidik dapat menggunakan alat pemusat perhatian seperti gambar, ilustrasi, audio, video, alat peraga, dan sebagainya.

3. Partisipasi Aktif Peserta Didik (Student's Active Participation)
Prinsip ini memberikan poin penting bahwa peserta didik yang tingkat partisipasinya tinggi dalam pembelajaran akan meningkat hasil belajarnya. Partisipasi aktif peserta didik dapat mendorong keterlibatan mereka sepenuhnya dalam pembelajaran, sehingga mereka memberikan perhatian atau fokus secara penuh terhadap segala aspek yang berkaitan dengan aktivitas belajarnya. Aktivitas belajar peserta didik meliputi aktivitas mental (memikirkan jawaban, merenungkan, membayangkan, merasakan) dan aktivitas fisik (melakukan latihan, menjawab pertanyaan, mengarang, menulis, mengerjakan tugas, dan sebagainya). Implementasi prinsip ini dalam pembelajaran dapat berupa penerapan pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, permainan edukatif (gamifikasi), atau media pembelajaran interaktif.

4. Pengulangan (Repetition)
Prinsip ini memberikan penekanan bahwa jika penyampaian pesan pembelajaran dilakukan secara berulang-ulang, maka hasil belajar peserta didik akan menjadi lebih baik. Hal yang perlu ditekankan bahwa pengulangan tersebut dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Langkah tersebut dilakukan agar pesan terdengar lebih bervariasi, sehingga tidak generik (umum). Tujuan utama pengulangan tersebut adalah agar meningkatkan retensi atau daya ingat, memperjelas pemahaman, menghindari kebosanan, serta memberikan penekanan pada poin-poin pesan yang penting. Pengulangan dapat dilakukan dengan memberikan tinjauan awal secara sepintas ketika awal pembelajaran, kemudian memberikan kesimpulan (ringkasan) pada akhir pembelajaran. Pengulangan juga dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata isyarat yang meliputi isyarat penegasan, pernyataan kembali, dan kesimpulan. Kata yang dapat digunakan dalam isyarat penegasan seperti "Sekali lagi saya ulangi", "Perlu saya tegaskan kembali", "Sebagai penekanan", dan seterusnya. Contoh pada isyarat pernyataan kembali seperti "Dengan kata lain", "Artinya", "Maksud dari hal tersebut adalah", dan seterusnya. Sedangkan pada isyarat kesimpulan contohnya seperti "Singkatnya", "Kesimpulannya adalah", "Sebagai rangkuman", dan seterusnya.

5. Umpan Balik (Feedback)
Prinsip umpan balik ini mengatakan bahwa penyampaian pesan peserta didik jika diberi umpan balik, maka hasil belajarnya akan meningkat. Umpan balik merupakan informasi yang diberikan kepada peserta didik terhadap pemahaman, kinerja, atau hasil belajarnya. Umpan balik dapat bersifat deskriptif, artinya peserta didik diberikan penjelasan mengenai aspek atau bagian yang kurang sesuai (salah) dari apa yang dikerjakan atau dipahami, serta menunjukkan aspek atau bagian yang sudah benar. Umpan balik juga dapat bersifat evaluatif seperti pemberian kata-kata pujian, nilai berupa skor atau huruf, dan gestur tertentu (jempol atau senyuman). Kegiatan pemberian umpan balik ini berupaya untuk memberikan konfirmasi, validasi, dan penguatan terhadap apa yang sudah dipahami peserta didik. Peserta didik akan mengetahui letak kesalahannya sehingga dapat dijadikan landasan baginya untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan tersebut. Umpan balik akan efektif jika dilakukan sesegera mungkin ketika peserta didik mengingat materi yang dimaksud, spesifik pada bagian tertentu, fokus pada aspek kinerja yang dapat diperbaiki, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami (sederhana).

Penerapan kelima prinsip desain pesan pembelajaran tersebut diharapkan dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran secara umum sangat berfokus bagaimana penyampaian pesan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Ketika penyampaian pesan dapat tercapai dengan efektif atau mudah dipahami, maka harapan utamanya adalah tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan hasil belajar peserta didik dapat meningkat.


Referensi: 
Haryanto. (2015). Teknologi Pendidikan. UNY Press
Situmorang, R., Widyaningrum, R., Imarnursetyo, K., Ariani, D. (2022). Prinsip Desain Pesan. Penerbit Universitas Terbuka

Cara Mengutip Artikel Ini:

Format APA Style (7th Ed.):
Memuat kutipan...

Format MLA Style (9th Ed.):
Memuat kutipan...


*Harap sertakan format kutipan yang sesuai, jika Anda mengutip artikel ini.
Yoga Prismanata

Saya adalah seorang penggiat di dunia pendidikan. Konsentrasi saya sekarang ialah dalam hal teknologi pendidikan. Saya memiliki minat yang tinggi dalam menulis dan media pembelajaran.

Posting Komentar

Kami ucapkan terima kasih telah mengunjungi dan membaca tulisan di website kami. Silahkan sampaikan kritik, saran, dan diskusi melalui kolom komentar.

Lebih baru Lebih lama